Sabtu, 05 Juni 2010

SHALAWAT KEPADA NABI Sallallahu 'Alaihi Wasallam SETELAH TASYAHUD

Ketahuilah bahwa shalawat kepada Nabi setelah tasyahud akhir menurut asy-Syafi'i adalah wajib. Apabila dia meninggalkannya, maka shalatnya tidak sah. Shalawat kepada keluarga Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam padanya tidak wajib menurut madzhab yang shahih lagi masyhur, ia hanya dianjurkan. Sebagian sahabat-sahabat kami berkata bahwa ia wajib (Dan yang kedua inilah yang benar dengan dukungan dalil-dalil yang banyak).
Yang paling utama adalah mengucapkan :

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad, seorang hamba, RasulMu, seorang Nabi yang ummi, kepada keluarga Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, Nabi yang ummi, kepada keluarga Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, di alam semesta; sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.” (Ini menurut madzhab an-Nawawi yang membentuk lafazh shalawat dengan menggabungkan bentuk-bentuk lafazh shalawat yang berbeda-beda yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi dalam hal ini. Ini tidak baik dan tidak diterima. Dan yang benar adalah hendaklah dia mengambil satu bentuk shalawat yang shahih dari Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Apabila dia melakukan yang ini di satu waktu, yang itu di lain waktu, maka itulah yang terbaik dan paling dekat kepada as-Sunnah. Lihat keteranganku sebelumnya di hal. (...) tentang perbedaan keanekaragaman).
Kami meriwayatkan cara ini dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Ka'ab bin Ujrah dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Anbiya`, Bab, 6/408, no. 3370; dan Muslim, Kitab ash-Shalah, Bab ash-Shalat ala an-Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam ,, 1/305, no. 406; dan lafazhnya :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung."
Shalawat kepada Nabi juga diriwayatkan oleh al-Bukhari ibid, 6/407 no. 3369 dan Muslim ibid, 1/306 no. 407 dari hadits Abu Humaid as-Sa'idi dan lafazhnya adalah :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ، وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung." Ia diriwayatkan pula oleh Muslim 1/305 no. 405 dari hadits Abu Mas'ud al-Anshari dan lafazhnya :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
"Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga Ibrahim, di alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.", kecuali sebagian darinya, ia shahih dari riwayat selain Ka'ab. Perinciannya akan datang pada "Kitab Shalawat Atas Rasulullah," insya Allah (Begitulah dia berkata di sini dan begitu sampai di bab shalawat kepada Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam sepertinya dia lupa dan tidak memenuhi apa yang dijanjikan di sini. Oleh karena itu aku memilihkan untuk anda wahai pembaca tiga bentuk shalawat kepada Nabi paling mudah dan aku cantumkan di catatan kaki sebelum ini. Siapa yang menginginkan tambahan-tambahan, silakan merujuk Jala' al-Afham karya Ibnul Qayyim dan Sifat Shalat Nabi karya al-Albani) Wallahu a'lam. Yang wajib darinya adalah :

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى النَّبِيِّ.
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi."
Kalau dia mau, dia boleh mengucapkan :

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ.
"Semoga shalawat Allah tercurahkan kepada Muhammad."
Kalau dia mau dia mengucapkan :

صَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِهِ.
"Semoga shalawat Allah (tercurahkan) kepada RasulNya."

صَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ.
"Shalawat Allah (semoga tercurahkan) kepada Nabi."
Kami juga mempunyai pendapat lain yaitu bahwa yang boleh hanyalah ucapan :

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ.
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad.
Kami juga mempunyai pendapat bahwa boleh mengucapkanm :

صَلَّى اللهُ عَلَى أَحْمَدَ.
"Semoga shalawat Allah (terlimpah) kepada Ahmad."
Ada pendapat lagi yaitu mengucapkan :

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ.
Shalawat Allah kepadanya." (Justru yang wajib adalah hendaknya orang yang shalat berpegang kepada bentuk shalawat yang diajarkan oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam kepada sahabat-sahabatnya di mana Nabi dan para sahabat melakukannya di dalam shalat secara rutin dan sebagian darinya telah hadir kepadamu. Adapun membatasi diri hanya pada bentuk tasyahud yang sudah dipangkas sedemikian rupa, maka ia tidak boleh dan tidak pantas. Wallahu a'lam) Wallahu a'lam.
Adapun tasyahud pertama, maka shalawat kepada Nabi padanya tidak wajib, dan tidak ada perbedaan pendapat tentangnya. Apakah disunnahkan? Terdapat dua pendapat; yang lebih shahih adalah disunnahkan, sedangkan shalawat kepada keluarga tidak disunnahkan menurut pendapat yang shahih. Ada yang berkata, "Disunnahkan." (Yang benar adalah bahwa shalawat kepada Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam pada tasyahud awal juga disyariatkan, lafazhnya sama, perintah kepadanya diriwayatkan secara shahih dan umum, tanpa membedakan antara tasyahud pertama dan kedua. Wallahu a'lam).
Doa pada tasyahud awal menurut kami tidak dianjurkan bahkan sahabat-sahabat kami berkata, "Makruh, karena tasyahud awal didasarkan kepada keringanan, berbeda dengan tasyahud akhir." (Doa setelah shalawat Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam di tasyahud awal tetap disunnahkan juga berdasarkan kepada hadits Ibnu Mas'ud yang hadir pada no.189, ia berlaku umum untuk dua tasyahud. Adapun pendapat bahwa tasyahud pertama didasarkan kepada keringanan, maka di samping ia lemah juga tidak menunjukkan tidak adanya anjuran, hanya keringanan semata. Wallahu a'lam) Wallahu a'lam.


Sumber : Ensiklopedia Dziikir Dan Do’a, Imam Nawawi,

Dzikir Ba'da Shalat

Para ulama telah berijma' disunnahkannya berdzikir seusai shalat. Dalam masa-lah ini terdapat banyak sekali hadits-hadits shahih yang beraneka ragam, kami sebutkan sebagian darinya. Di antara yang paling penting adalah:
Kami meriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi dari Abu Umamah radiyallahu 'Anhu , dia berkata,

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفَ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ.
"Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya, 'Doa apakah yang lebih didengar (dikabulkan)?' Nabi menjawab, 'Doa tengah malam yang terakhir dan setelah shalat fardhu'." (Shahih, kecuali ucapannya, "setelah shalat fardhu," ia munkar, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi – Kitab ad-Da'awat- Bab, 5/526 no. 3499; an-Nasa`i dalam Amal al-Yaumi Wa al-Lailah no.108: dari jalan Ibnu Juraij, dari Abdurrahman bin Sabith, dari Abu Umamah dengan hadits tersebut.
At-Tirmidzi berkata, "Ini adalah hadits hasan." Al-Asqalani dalam Amali al-Adzkar 3/30 – Futuhat, mengkritiknya dan berkata, "Apa yang dikatakan kurang tepat, karena ia mempunyai beberapa illat, di antaranya adalah terputusnya sanad antara Ibnu Sabith dan Abu Umamah. " Ibnu Ma'in berkata, "Abdurrahman bin Sabith tidak mendengar dari Abu Umamah. Illat lainnya adalah riwayat Ibnu Juraij dari Ibnu Sabith dengan 'dari'. Illatnya yang lainnya lagi adalah syudzudz karena dasar hadits ini hadir dari lima orang kawan Abu Umamah dari riwayat Abu Umamah, sahabat Nabi dari Amru bin Abasah. Semuanya hanya menyebutkan penggalan yang pertama."
Aku berkata, "Ini adalah penyelisihan pada sanad dan matan sekaligus. Dari sini maka penggalan yang pertama dari hadits adalah shahih sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Hafizh dari riwayat Abu Dawud Kitab ash-Shalah, Bab Man Rakhkhasha Fihima, 1/409, 1277; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab, 5/569, no. 3579; an-Nasa`i, Kitab al-Mawaqit, Bab an-Nahy An ash-Shalah Ba'da al-Ashr, 1/279, no. 571; ath-Thabrani dalam ad-Dua' no. 128 dan 129, al-Baihaqi 2/455 dari beberapa jalan, dari Abu Umamah, dari Amr bin Abasah dengan hadits tersebut. Ia mempunyai syawahid, di antaranya hadits Ibnu Umar di Abu Ya'la no. 5682 dengan sanad yang terputus. Hadits Ibnu Auf di ath-Thabrani 1/133 no. 279 juga dengan sanad yang terputus dan dari syawahid tersebut tidak ada yang mendukung penggalan kedua dari hadits di atas. Jadi ia tetap dalam kedhaifannya, oleh karena itu Ibnul Qayyim dalam Zad al-Maad 1/257 berkata, "Adapun doa ba'da salam dari shalat dengan menghadap kiblat atau menghadap makmum, maka hal itu bukan termasuk petunjuk Nabi sama sekali, tidak pula diriwayatkan darinya dengan sanad yang shahih atau hasan." Aku berkata, "Inilah yang benar, insya Allah karena yang disyariatkan setelah shalat adalah dzikir tertentu bukan doa yang mutlak." ), At-Tirmidzi berkata, "Hadits hasan."
Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu Abbas radiyallahu 'Anhuma, dia berkata,

كُنْتُ أَعْرِفُ اِنْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِالتَّكْبِيْرِ.
"Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam dengan takbir." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Adzan, Bab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah, 2/324, no. 841 dan 842; dan Muslim, Kitab al-Masajid, Bab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah, 1/410, no. 583).
Dalam riwayat Muslim, "Kami."
Dalam riwayat lain dalam Shahih keduanya dari Ibnu Abbas radiyallahu 'Anhu,

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ.
"Bahwa mengeraskan dzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardhu sudah terjadi sejak masa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam." Ibnu Abbas berkata, "Aku mengetahui bahwa mereka selesai (dari shalat), apabila aku mendengarnya." (An-Nawawi berkata, "Asy-Syafi'i menafsirkan hadits ini bahwa mereka mengeraskannya dalam jangka waktu yang pendek demi mengajarkan sifat dzikir bukan berarti mereka terus menerus mengeraskannya. Dan pendapat yang terpilih adalah bahwa imam dan makmum menyamarkan dzikir, kecuali jika demi tuntutan pengajaran." Ini adalah ucapan an-Nawawi dan disetujui oleh al-Asqalani di al-Fath 2/326 dan inilah yang benar, insya Allah).
Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim (Kitab al-Masajid, Bab Istihbab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah, 1/414, no. 591) dari Tsauban radiyallahu 'Anhu, dia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ، اِسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.
"Apabila Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam selesai shalat, beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan, 'Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan dan dariMu keselamatan, Mahasuci Engkau wahai Tuhan yang Mahaagung dan Mahamulia."
Al-Auza'i, salah seorang rawi hadits ditanya, "Bagaimana bunyi istighfar?" Dia men-jawab, "Kamu mengucapkan 'Astaghfirullah'." (Kitab al-Masajid, Bab Istihbab adz-Dzikr Ba'da ash-Shalah, 1/414, no. 591)
Sumber : Ensiklopedia Dziikir Dan Do’a, Imam Nawawi,

Kisah Cinta Putri Pemimpin Para Nabi

Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama.
Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibundanya, seorang wanita bangan Quraisy, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah radhiallahu ‘anhu, saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. Dia bernama Zainab radhiallahu ‘anha bintu Muhammad bin ‘Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah. Ketika itu, Khadijah radhiallahu ‘anha menghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. Dari pernikahan itu, lahir Umamah dan ‘Ali, dua putra-putri Abul ‘Ash.
Tatkala cahaya Islam merebak, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka hati Zainab radhiallahu ‘anha untuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda…
Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainab radhiallahu ‘anha masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah.
Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badr. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.
Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab radhiallahu ‘anha untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenang pada Khadijah radhiallahu ‘anha yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”
Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu.
Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.”
Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan.
Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan seratus tujuhpuluh orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri.
Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui istrinya, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk meminta perlindungan.
Subuh tiba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu, Zainab radhiallahu ‘anha berseru dengan suara lantang, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!”
Usai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap pada para shahabat sembari bertanya, “Kalian mendengar apa yang aku dengar?” “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yang baru saja kalian dengar.”
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui putrinya dan berpesan, “Wahai putriku, muliakanlah dia, namun jangan sekali-kali dia mendekatimu karena dirimu tidak halal baginya.” Zainab radhiallahu ‘anha menjawab, “Sesungguhnya dia datang semata untuk mencari hartanya.”
Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu dan berkata pada mereka, “Sesungguhnya Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui, dan kalian telah mengambil hartanya sebagai fai’ yang diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan, maka kalian lebih berhak atas harta itu.” Para shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami akan kembalikan harta itu padanya.”
Seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya dan tidak berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?” Mereka menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Abul ‘Ash pun kemudian menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku masuk Islam.” Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah, hingga bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam.
Enam tahun bukanlah rentang waktu yang sebentar. Akhir penantian yang sekian lama pun menjelang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan putri tercintanya, Zainab radhiallahu ‘anhu kepada suaminya, Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ radhiallahu ‘anhu, dengan nikahnya yang dulu dan tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka …
Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan taqdir-Nya. Tak lama setelah pertemuan itu, Zainab bintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke hadapan Rabb-nya, pada tahun kedelapan setelah hijrah, meninggalkan kekasihnya untuk selamanya.
Di antara para shahabiyyah yang memandikan jenazahnya, ada Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha. Darinya terpapar kisah dimandikannya jenazah Zainab radhiallahu ‘anha, sesuai perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan guyuran air bercampur daun bidara. Seusai itu, rambut Zainab radhiallahu ‘anha dijalin menjadi tiga jalinan. Jenazahnya dibungkus dengan kain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putri pemimpin para nabi itu telah pergi… 
Sumber :
- Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1701-1704,1853-1854)
- Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/30-35)
- Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 110-117)
- Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, karya Ibrahim Al-‘Ali (hal. 192)
- Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/246-250), 

Menjadi Penghuni Surga ( Karena Tidak Hasad)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, "Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba beliau bersabda, 'Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.' Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.' Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.
Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!' Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .
Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, 'Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.'
Dia menjawab, 'Silahkan!'
Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamullail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.
Abdullah juga mengatakan, 'Saya tidak mendengar ia berbicara kecuali yang baik.'
Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, 'Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.' Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.
Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?'
Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, 'Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.'
Abdullah bin Amr berkata, 'Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya'."
Sumber : Az-Zuhdu, Ibnul Mubarak, hal. 220

Jumat, 21 Mei 2010

Jilbab Bagi Wanita Muslimah

Assalamualaikum....
Seiring dengan perkembangan jaman jilbab sudah tidak dihiraukan lagi.Kita melihat banyak kaum muslimah yang tidak berjilbab.Ada yang berjilbab bukan dengan tujuan untuk menutup aurat-aurat mereka akan tetapi dengan tujuan mengikuti mode, agar lebih anggun dan cantik. Sehingga walaupun mereka berjilbab tetapi masih memperlihatkan bentuk tubuh mereka,lekuk-lekuk tubuh mereka.Karena apa..? mereka memakai jilbab dengan kondisi pakaian yang ketat.
Rasululloh SAW bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim) 
Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang ALLOH SWT perintahkan untuk ditutupi. 
Syarat ini terdapat dalam Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat An-Nuur ayat 31, 
yang artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman.Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita...”
Juga Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59, yang 
artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin: “Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
hadist lain menjelaskan :
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya: “Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi (yang bukan mahram/halal nikah), kecuali yang tidak mungkin disembunyikan.” Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. “Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan.”

Al-Qurthubi berkata: Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah shalallohu 'alahi wa sallam sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya : “Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini.” Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Semoga Allah memberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya.”

Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsanya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qibtiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : “Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis !. Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis,namun ia menggambarkan lekuk tubuh.” (H.R. Al-Baihaqi II/234-235).

Usamah bin Zaid pernah berkata: Rasulullah shalallohu 'alahi wa sallam pernah memberiku baju Qibtiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku: “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Qibtiyah ?” Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : “Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Qibtiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya.” (Ad-Dhiya Al-Maqdisi : Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441).
Aisyah pernah berkata: ” Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya (Ibnu Sad VIII/71). Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel)” (Ibnu Abi Syaibah: Al-Mushannaf II:26/1). 
  
(Dikutip dari: Kitab Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah, Asy-Syaikh Al-Albani)
Sampai disini dulu ..apabila ada kata-kata yang menyinggung perasaan,saya mohon maaf.Yang benarnya datangnya Dari Allah SWT,dan salahnya dari kekhilafan saya...Saya mohon ampun Kepada Allah SWT...Amien

 

Minggu, 16 Mei 2010

Bersahabat dengan Kematian

Mendengar kata kematian Tubuh kita bergemetar,bulu kuduk langsung berdiri,takut kalau tiba-tiba nyawa kita diambil oleh Allah SWT dalam kondisi kita belum siap.Suka atau tidak suka,Senang atau tidak senang yang pasti kita akan kembali kehadirat Allah Azza wazalla.Tiap-tiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 168
artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Kemudian Allah juga berfirman dalam Al-Qur'an Surat An-Nisaa ayat  78
artinya : Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Allahuakbar, ayat di atas menjelaskan bahwa di mana saja kita berada,sekalipun kita bersembunyi dalam benteng yang kokoh,kita bersembunyi di dalam peti emas,bersembunyi di tempat yang manusia tidak bisa mengetahuinya pasti kematian akan menemuinya. Maka ketika seseorang diambil nyawanya oleh Allah,maka putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara yakni Ilmu yang bermanfaat, Do'a  anak yang Shaleh dan amal jariah. Oleh karena itu marilah kita fikir,kita risau bahwa kematian tidak mengenal, apakah bayi,orangtua,kaum muda,presiden,raja,Ulama dan lain-lainnya pasti akan kembali kepada Allah SWT.

Selain Ayat di atas terdapat juga firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-an'am
artinya : Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

Kita tidak bisa lari dari kematian karena ini adalah kekuasaan Allah SWT yang menghidupkan dan mematikan seluruh makhluk-Nya.
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".(QS. Al-Jumua'ah ayat 8).

Siapa sich yang tidak pengen mati dalam keadaan Husnulkhotimah..?
Orang yang setiap kali mengingat kematian termasuk tanda-tanda orang yang beriman.Dalam hidupnya selalu risau dan takut kepada kematian sehingga ia berusaha menjaga setiap amalanya dan menjadi titik tolak untuk melakukan sesuatu perbuatan yang sia-sia(maksiat). Maka marilah kita jadikan kematian sebagai sahabat karena dengan mengingat kematian InsyaAllah kita akan selalu dekat dengan Allah SWT. Nah bagaimana caranya..? Ada beberapa upaya untuk menjadikan kematian sebagai sahabat kita.

Pertama,Untuk apa kita hidup..? Setiap muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tentu mengetahui hal ini; bahwa mereka hidup adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Namun, banyak orang yang terjerumus dalam kekeliruan dalam memaknai ibadah di dalam kehidupan mereka. Sebagian orang menganggap bahwa ibadah hanya terkait dengan urusan masjid dan ibadah ritual belaka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang lebih penting adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia tanpa memperdulikan agama mereka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang paling penting saat ini adalah terjun di dalam pertarungan di panggung politik untuk mendapatkan kekuasaan bagi kemenangan kaum muslimin.
Banyak orang mengira bahwa dengan harta dan jabatan maka seorang akan bisa hidup dengan penuh kenikmatan di alam dunia ini. Oleh sebab itu mereka mengejar-ngejar dunia bahkan lebih mengutamakannya daripada mengejar akhirat. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa dunia ini hanyalah sementara. Hari ini kita masih bernafas, boleh jadi esok atau lusa tubuh kita sudah bermandikan tanah alias mati. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sesungguhnya pahala atas amal-amal kalian hanya akan disempurnakan pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung, sedangkan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran : 185). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar permainan dan kesia-siaan, dan sungguh negeri akhirat itu pasti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, mengapa kalian tidak mau memikirkan?” (QS. al-An’aam : 32).

Kedua, Kemana kita setelah menempuh kematian di dunia?
Sering kali kita temui keluhan dari bapak kita,ibu kita,teman kita,saudara kita bahkan diri kita sendiri pernah berfikiran "saya harus kaya,harus sukses dan harus mempunyai jabatan supaya dihormati banyak orang" Setiap selesai beribadah berdo'anya selalu meminta kesuksesan,kekayaan serta pangkat dan jabatan.Bahkan kita lupa berdo'a bagaimana kita cara matinya nanti, dan apa bekal kita untuk menghadap Allah SWT
Ketiga,Berdo'a kepada Allah SWT untuk dimatikan dalam keadaan Husnulkhotimah " Ya Allah matikanlah hambamu dalam keadaan mati sahid,jika tidak matikanlah hambamu dalam keadaan menuntut ilmu,jika tidak ya Allah matikanlah hambamu dalam keadaan Sholat berjama'ah,jika tidak ya Allah matikanlah hambamu dalam keadaan Sholat tahajjud,jika tidak ya allah matikanlah hambamu pada hari Juma'ah."

Apabila kita menghayati do'a di atas maka betapa Iman seseorang akan bertambah kuat.karena apa?
karena bilamana seorang muslim berdoa kemudian meminta kepada Allah mengenai kematiannya maka setiap langkah hidupnya pasti selalu terjaga,pasti merasa dekat dengan Allah SWT karena merasa dilihat.Maka kembali lagi kita Risau dan berfikir marilah dari sekarang kita luruskan kita tetapkan bagaimana kita menghadapi kematian dalam keadaan siap.Oleh karena itu, marilah kita jalankan semua perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA dengan perpedoman pada Al-Qura'n dan As-sunnah.  Akhirul qalam.........
Wassalam......

Jumat, 14 Mei 2010

Kisah Bilal Bin Rabbah

 Bilal lahir di daerah As-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

 Beliau adalah sahabat Nabi yang terkenal. Dia adalah seorang mu'adzin (juru adzan) di masjid Nabawi. Sebelumnya, ia seorang hamba sahaya milik seorang kafir Quraisy kemudian memeluk Islam.
Keislamannya menyebabkan Bilal r.a. mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan akibat perbuatan orang-orang kafir. Umayah bin Khalaf adalah seorang kafir yang paling keras memusuhi Islam, ia pernah membaringkan Bilal r.a. di atas padang pasir yang panas membakar ketika matahari sedang terik sambil menindih batu besar di atas dadanya sehingga Bilal r.a. tidak dapat menggerakan badannya sedikitpun. Umayah berkata "Apakah kamu bersedia mati dalam keadaan seperti ini? Ataukah kamu mau terus hidup, dengan syarat kamu tinggalkan agama Islam?" Walaupun Bilal r.a. disiksa seperti itu namun ia berkata "Ahad!!! Ahad!!!" yang artinya Esa (maksudnya Allah maha Esa)
Pada malam harinya, Bilal r.a. diikat dengan rantai, kemudian dicambuk terus menerus hingga badannya luka-luka. Pada siang harinya, dia dibaringkan kembali di atas padang pasir yang panas. Dengan cara tersebut tuannya berharap Bilal r.a. akan mati dalam keadaan seperti itu. Orang kafir yang menyiksanya silih berganti, suatu kali Abu Jahal yang menyiksanya, terkadang Umayah bin Khalaf, bahkan orang lain pun turut menyiksanya juga. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyiksa Bilal r.a dengan siksaan yang lebih berat lagi.
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras. Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”

  Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

   Pada saat  Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Sebelum Rasulullah saw wafat, Bilal ditugaskan  sebagai juru adzan di masjid Nabi. Setelah Rasulullah saw wafat pada mulanya dia tetap tinggal di Manidah Thayyibah. tetapi karena tidak kuat menahan kesedihan setiap kali melewati makam Rasulullah saw (nabi lahir di Mekah dan meninggal di Madinah  maka Bilal r.a. meninggalkan Madinah sampai beberapa waktu lamanya.
Pernah Pada suatu hari, Bilal r.a. bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw bersabda kepadanya "Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah berziarah kepadaku". Setelah bangun dari dari tidurnya, Bilal r.a. segera pergi ke Madinah. Setiba di Madinah Hasan dan Husain r.a. meminta Bilal r.a. agar mengumandangkan adzan. Bilal tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika Bilal r.a. mulai beradzan, maka terdengarlah suara adzan seperti pada zaman Rasulullah saw. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanitapun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untk mendengarkan suara adzan Bilal r.a.

Setelah beberapa hari lamanya Bilal r.a. tinggal di Madinah, akhirnya dia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.

Sumber Nabi Muhammad

 

Support System Marketing Online

Support System Marketing Online

ALLAHUAKBAR Copyright © 2009 Template is Designed by Islamic Wallpers